Perlukah Arthur Sekolah Playgroup?

Seperti perjuangan untuk memberikannya hak pendidikan yang layak. Harus aku pikirkan dan persiapkan dari sekarang meskipun usia Arthur belum cukup 2 tahun. Lagian, Arthur memberikan tanda kesiapan bersekolah. Setiap ditanya “siapa yang mau sekolah” Arthur langsung angkat tangannya dengan bersemangat, karena aku sering menceritakan kepada Arthur apa itu sekolah, ada apa di sekolah, dan ngapain aja di sekolah. Ketika Arthur ditanya, sekolah dimana dia langsung jawab “sekolah di TK”. Aku tanya temanku seorang psikolog, ternyata itu salah satu tanda Arthur menunjukkan kesiapan bersekolah. Sebelum masuk sekolah, PR ku adalah melatih kemandiriannya di rumah seperti makan sendiri dan toilet trainee. 2 Hal tersebut memang jadi PR banget, sudah lama dilakukan namun selalu saja kurang konsisten sehingga tidak ada hasilnya, hehehehe…

Ada yang pernah bilang “Anak sekolah di playgrup itu hanya sebagai ajang ibu-ibu untuk sibuk antar jemput anak sekolah lalu ngerumpi dengan ibu-ibu yang lain” Emang sih sering aku lihat macem gini, tapi semoga aku bukan kaum ibu-ibu yang sering rumpik nggak penting seperti ini kalau Arthur sekolah playgrup nanti. Lha wong aku nyekolahin Arthur supaya aku bisa me time, dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaanku seperti bikin tugas, ngeblog, ngebraillein buku Arthur, dll. Kalau Arthur nggak sekolah, aku baru bisa ngerjain pekerjaanku kalau malem Arthur udah tidur dan itu aku bakalan begadang. Soalnya Arthur bakalan ngintilin aku kemana-mana.

Mungkin ada juga yang berpikir “Kasihan anak nya kecil – kecil udah disuruh sekolah, anak kecil kan main bukan belajar”

Sering juga aku lihat postingan di facebook, yang biasanya di re-share para ibu-ibu. Tulisan dari seorang psikolog pemerhati anak, yang mengatakan jika anak disekolahkan terlalu dini itu berbahaya, karena anak itu sebaiknya bermain bukan belajar. Menyekolahkan anak terlalu dini itu sama saja menyemai bibit kanker kata beliau. Dan kalau saya pribadi kok tidak setuju dengan kata-kata psikolog tersebut. Nah ini yang kadang menjadi perdebatan atau “mommy’s war”, Yes or No untuk menyekolahkan anak di Playgrup. Biasalah emak – emak kan hobbynya nyinyir dan ributin apa aja, hahahaha… aku sih maklumin aja. Persepsi orang kan berbeda-beda.  Tapi kemudian kembali lagi ke orang tua masing – masing, karena kondisi orang kan berbeda – beda. Mungkin pemilihan kata para emak – emak ketika mengkritisi permasalahan tersebut tidak tepat sehingga menimbulkan perdebatan yang tidak pada tempatnya alias nyinyir.Hehehe…

sumber : Buku Anti Panik Mengasuh Bayi 0-3 tahun (TigaGenerasi)

Playgroup itu artinya kelompok bermain.  Kegiatan sekolah playgroup ya bermain. Kalaupun belajar, mereka belajar dengan cara bermain.  Lagian Playgroup itu rata-rata nggak setiap hari juga sekolahnya, palingan seminggu 2-3 kali aja. Dan cuma sekitar 2-3 jam aja. Kecuali kalau ortunya pengen masukin ke program fullday, biasanya kalau kedua orangtuanya sibuk bekerja, anak akan dimasukkan ke playgroup yang fullday. Makanya aku bilang,  kondisi orang kan berbeda-beda.

Ya mungkin saja ada beberapa sekolah yang masih berkonsep pada hasil, sehingga anak usia dini dipaksa untuk bisa calistung. Kalau yang seperti ini memang tidak sesuai dengan fitrah anak yang seharusnya di usia tersebut lebih baik bermain. Mungkin psikolog pemerhati anak yang saya bilang tadi, menilai sekolah playgrup demikian karena hanya melihat playgrup yang berkonsep pada hasil seperti ini. Padahal tidak semua sekolah playgrup berkonsep pada hasil, sehingga kita harus melihat sistem belajar sekolahnya seperti apa sebelum mendaftarkan anak ke sekolah tersebut. Jadi, sebelum memutuskan akan disekolahkan dimana, baiknya bertanya dulu bagaimana kurikulum dan sistem belajar anak disana.

Kalau aku, mencari sekolahan bukan melihat bagaimana hasilnya dia ketika bersekolah disitu, tapi aku melihat proses didalamnya. Yang penting Arthur bisa mengembangkan dirinya dengan bermain bersama teman – temannya, berinteraksi dengan orang lain, menumbuhkan kemandirian, kepercayaan diri dan hal yang paling penting yang aku cari adalah sosialisasi dengan teman sebaya dan orang lain. Ketika anak tersebut memiliki prestasi di sekolah tersebut, itu hanyalah menjadi nilai tambah yang ada pada dirinya.

 

Perlukah Arthur masuk playgroup di usianya yang masih 2 tahunan ini?

Sekali lagi, semua kembali ke orang tua masing-masing dan juga meilihat kesiapan anak. Setelah konsultasi dengan teman yang seorang psikolog, dan dia bilang kalau Arthur menunjukkan tanda kesiapan sekolah aku langsung aktif untuk mencari informasi pre-school di Jogja. Dan menurutku, Arthur juga butuh untuk masuk playgroup.  Di grup Baby Community pun seringkali disarankan, ketika usia anak sudah bisa masuk sekolah (2-3tahunan), tidak ada salahnya dimasukkan ke PlayGroup agar dia mampu  bersosialisasi serta percaya diri.

 

Kenapa memilih sekolah di Jogja, bukan di Bekasi?

Karena setelah memikirkan beberapa hal di masa depan, kami berencana untuk tinggal di Jogja. Selain itu, sekolah di Jogja lebih mudah aksesibilitas nya dibanding ketika di Bekasi. Menurutku, biayanya pun juga lebih murah dengan fasilitas yang setara seperti sekolah di area jabodetabek. Dan yang paling penting, Yogyakarta ramah disabilitas. Terbukti dengan adanya guding block di trotoar-trotoar di pinggir jalan kota jogja (meskipun masih ada ditemui beberapa titik yang memang tidak sesuai pemasangan guiding block nya).

 

Sekolah inklusi menjadi pilihanku untuk Arthur bersekolah kelak. Karena pertimbangan beberapa hal. Di saat usia Arthur masih kecil seperti ini tentu saja dia belum paham ketika ada yang bertanya “matamu kenapa?” “kamu nggak bisa lihat ya” “kamu kasihan” dan sebagainya. Dia belum bisa merasakan sakit hati ataupun tersinggung dengan kata-kata seperti itu, tapi mamanya paling yang tersinggung hehehe… Tapi semoga aku selalu diberikan kewarasan dalam berpikir jika suatu saat nanti dihadapi oleh perkataan seperti itu, supaya kata-kata seperti itu tidak membuatku kembali denial lagi.

SLB VS sekolah umum inklusi

Tapi setelah bertanya kesana kemari ke beberapa sekolah inklusi di Kota Jogja,  ternyata masih banyak sekolah (pre-school) inklusi yang belum bisa menerima kondisi Arthur. Dengan alasan belum siap dengan fasilitas dan lingkungan sekolah, meskipun sekolah tersebut bisa menyediakan shadow teacher. Ternyata aku harus berjuang lagi. Ku ketuklah pintu UNY jurusan PLB. Dan Alhamdulillah jalan Arthur InsyaAllah menjadi di permudah. Aku diperkenalkan oleh temanku dengan seorang dosen disana, yang akan membantu “mengetuk pintu” sekolah-sekolah inklusi dan beliau juga menawarkan pendampingan untuk Arthur.

Sebelum bertemu dengan ibu sukinah (dosen PLB UNY) , Sebenernya aku juga sudah daftar waiting list PAUD inklusi psikologi UGM untuk tahun 2018. Sayangnya, waiting list nya udah buuanyak banget. Padahal mereka hanya ada 1 kelas, sekitar 12 – 15 anak.  Padahal PAUD psikologi UGM tersebut, bisa dibilang murah dengan fasilitas yang diberikannya. Dan disana bisa menerima anak dengan kondisi hambatan penglihatan. Mereka sudah beberapa kali menerima murid ABK tuna netra, dan saat aku datang kesana ada salah satu murid yang low vision. Jadi, aku pikir mereka memang suadah berpengalaman menangani dan membimbing anak – anak ABK, terutama Tuna Netra.

Namun sayangnya, pada tahun ajaran 2017 kemarin, PAUD inklusi psikologi UGM ini tutup. Karena sebenernya PAUD ini adalah laboratorium milik fakultas psikologi UGM, mungkin saja ada masalah dengan perizinannya sehingga tidak bisa dilanjutkan lagi. Sangat disayangkan sekali šŸ™

Lalu, aku cari tau sekolah lain di jogja, PAUD dan TK inklusi dan coba dateng langsung kesana untuk tanya – tanya cari informasi. Mereka memang meng-inklusi, menerima anak berkebutuhan khusus. Tapi sayangnya beberapa sekolah tidak bisa menerima semua kondisi ABK. Rata-rata anak autis, down syndrom, ADHD, gangguan konsentrasi yang bersekolah disana. Mereka masih belum bisa menerima Anak Tuna netra dan Tuna rungu dengan alasan keterbatasan fasilitas, lingkungan sekolah yang belum mendukung dan kekurangan tenaga pendidik. Meskipun orang tua bersedia membawa shadow teacher (guru pendamping) sendiri. Aku hampir hopeless untuk mencari playgroup inklusi. Karena kalau SLB pun belum ada yang bisa menerima murid usia playgroup 2 – 3 tahunan, rata-rata  usia TK atau SD minimal 4 tahun.

Akhirnya, setelah bercerita dengan temanku yang merupakan alumni PLB UNY, aku pun diperkenalkan dengan ibu Sukinah dosen PLB UNY. Kami pun janjian untuk bertemu di UNY. Ibu sukinah baik banget, enak diajak sharing dan diskusi serta memberikan masukan apa yang harus aku lakukan. Beliau juga bersedia membantu untuk mencarikan sekolah ataupun pendampingan kepada Arthur. Alhamdulillah jalan Arthur dipermudah. Bu Sukinah ini spesialisasinya adalah sekolah inklusi. Jadi beliau cukup tahu banyak tentang sekolah inklusi yang berada di Yogyakarta. Aku pun disarankan untuk mencoba datang dan bertanya ke TK & Playgroup Pedagogia. Pedagogia adalah TK & Playgroup milik UNY, dan salah satu sekolah inklusi di Yogyakarta.

Setelah diberi saran oleh Ibu Sukinah, aku pun mendatangi Pedagogia. Dan Alhamdulillah disana sebetulnya bisa menerima kondisi Arthur, namun sayangnya Quota ABK untuk tahun ajaran 2018 baru update di bulan Januari 2018. Sehingga aku diminta untuk mengisi waiting list terlebih dahulu. Padahal kalau bisa, aku mau langsung daftarin saat itu juga. Karena setelah tanya mengenai  sistem belajar dan  bagaimana respon anak lain terhadap ABK, aku merasa sekolah tersebut aman untuk Arthur. Selain itu, lokasi nya tidak terlalu jauh-jauh amat dari rumah.

Kita tunggu saja besok sekitar awal 2018, apakah Arthur masuk kuota dan diterima atau tidak. Kalaupun ternyata Arthur tidak masuk kuota, ya mau gimana lagi. Sekolah playgrupnya ditunda sampai 2019. Padahal kalau Arthur udah bisa bersekolah, rencananya aku pengen hamil lagi, hehehe šŸ˜€

Perjuangan banget sepertinya nyariin sekolah buat Arthur. Ini baru nyari Playgroup dan TK loh. Belum lagi besok kalau nyari SD, SMP, SMA, Kuliah. Semoga saja jalan Arthur selalu dipermudah dan selalu ada yang membantu Arthur. AMIN.

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *